web 2.0

Kisah 3 wanita (minus 1), plus 1 pria panggilan

*what a provocative title, fufufufu…*

Pada suatu sore, ketika jeng Mar dan jeng Par kelaparan di pavilion Tercinta *yang servisnya jauuuuh lebih baik daripada pavilion Margondez, ohya, tunggu cerita selengkapnya bagaimana 3 wanita bisa lolos dari pavilion Margondez*

Jadi ceritanya,
jeng Mar, ga masuk kantor, seharian ngendon di kamar, sakit typhus katanya, siang-siang makan seadanya karena ga sanggup jajan di luar *ya iyalah, sakit typhus masak jajan…*

 

jeng Par, pulang sore, agak menyesal pulang sore karena pulang sore berarti ga dapet jatah makan gratis di kantor, tapi apa daya, udah ga sanggup akting sibuk lagi di kantor *jobless beratt..*


jeng Kar, masih tertahan di kantor, gara-gara barang dagangannya masih nyangkut di laut *hayoo tebak, apa kerjaannya jeng Kar…*

Karena lapar tak tertahankan lagi, akhirnya jeng Mar dan jeng Par memutuskan untuk… masak!!! Mereka yakin mereka pasti sukses! Walaupun tanpa jeng Kar…

Setelah berdiskusi, diputuskan bahwa mereka akan memasak : oseng-oseng kacang panjang pake tempe, dan perkedel kentang. Perkedel kentang diputuskan sebagai lauk utama karena tingkat kesulitannya yang cukup tinggi sehingga lebih menantang *ihihihihi…*

Bahan-bahan sudah lengkap tersedia, dengan rincian sebagai berikut:

  • beras secukupnya
  • kentang 3 butir
  • kornet sapi
  • kacang panjang 1 ikat
  • tempe 1/2 bungkus
  • kecap
  • bawang merah dan bawang putih
  • merica bulet-bulet
  • garam dan gula

Kemudian…
jeng Mar: kentang dikupas dan dipotong kecil-kecil kemudian digoreng, sembari menggoreng kentang, kacang panjang direbus sampai matang

jeng Par: lalu, bawang putih, bawang merah, dan merica bulet-bulet diulek sampai halus, tambahkan kentang yang sudah digoreng dan kornet sapi, ulek lagee…

jeng Mar: tempe, bawang merah, bawang putih dipotong-potong, terus ditumis, tambahkan kacang panjang, garam, gula, kecap, aduk teruuuuss..

jeng Mar & jeng Par: Oseng-oseng jadi, tinggal mbulet-mbuletin adonan perkedel,

jeng Par: dicelup ke dalam telur, dan digoreeng *sreeeeeng*

Fyuuuuuuuh.. udah kayak syuting acara masak-memasak. Di akhir syuting, ketika semua masakan sudah siap saji, jeng Mar dan jeng Par merasa amat sayang, sudah capek-capek masak dengan indah, mosok yang makan mereka-mereka juga.

Jadi diputuskan mereka akan memanggil saksi hidup, yang bertugas menjadi saksi akan kebolehan memasak mereka berdua, sekaligus sebagai tester apakah makanannya layak makan atau tidak.

Setelah berunding cukup lama *karena susah mencari teman sekantor yang sama-sama pulang sore*, dan dengan mempertimbangkan bahwa saksi yang dipanggil harus sudah makan *penting ini.. biar jatah makan kami tidak berkurang*, akhirnya diputuskan bahwa yang dipanggil adalah…

*tiiiiiit* <= kena sensor, karena yang bersangkutan keberatan dipublikasikan namanya… *padahal mah, penulis yang males nyari nama*

Berikut dokumentasinya:

our masterpiece... oseng'' kacang panjang pake tempe + perkedel kentang

our masterpiece... oseng'' kacang panjang pake tempe + perkedel kentang

sang 'pria panggilan' yang sangat puass dengan kualitas masakan kami.. "wuih, lueezaatt pek.." katanya..

sang 'pria panggilan' yang sangat puass dengan kualitas masakan kami.. "wuih, lueezaatt pek.." katanya..

Before 17

Menyambung postingan sebelumnya, kalau saya mengibaratkan ‘life is just like an ocean’ dan usia 17 tahun sebagai fase mulai melangkahkan kaki menuju lautan, berarti… 22 tahun… uhhhmm, bisa dibilang sudah berjarak 5 km dari tepi laut ya ^__^

Sekarang ini memang lagi berkecipak-kecipak di yang namanya dunia kerja, lagi berjuang biar tetep ngambang, ga tenggelam… Masih pake pelampung sih, tapi rasanya ga boleh terlalu bergantung sama pelampung deh, kalo pelampungnya bocor gimana??

*sigh* menengok ke belakang, ke arah pasir pantai yang berkilau-kilau, jadi pengen berenang balik lagi, kembali ke pantai… main pasir, sesekali main air tapi enggan nyemplung dan berenang, atau sekedar bersantai2 menikmati pemandangan lautan, menebak-nebak ada apa di balik horizon…

… really miss my ‘before 17′ …

tapi masih berusaha berenang maju kok, walaupun gaya berenangnya ga terlalu canggih… habiis, saya kan penasaran ada apa di balik horizon, hehe…

*kecipak… kecipak…*

dear lil' sista…

to17th1

life is just like an ocean
right now, you’re still standing on the seaside
you’re ready to move on your feet forward
get wet… swept away by rough wave…
but you’ll have to keep on swimming
coz’ you don’t know what will be waiting for you
at the end of the sea…

Happy 17th Birthday my lil’ sister
wish you all the best…

and.. welcome to the ocean!!!

*big hug and kiss*
-ta-

p.s. :

bijak banget ga sih ucapan ultah dari gw, hihihi…
btw, sorry converse higomari ungu tampak gagal jadi kado >_< gomen ne…
udah punya ka-te-pe dong yahh, prikitiuuuw… mari kita golput di pemilu nanti!!! *ooops…*

Thursday's Child

 

Monday’s child is fair of face.
Tuesday’s child is full of grace.
Wednesday’s child is full of woe.
Thursday’s child has far to go.
Friday’s child is loving and giving.
Saturday’s child works hard for a living.
But the child that’s born on the Sabbath day,
is bonny and blythe and good and gay

 

Dulu, waktu saya masih kecil, pernah baca puisi ini di satu buku *tentunya setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia*. Lupa bukunya apa, tapi yang jelas, begitu baca puisi itu, langsung nanya ke mama “ta lahir hari apa?”. Kata mama “hari kamis nak..”. Begitu baca “anak kamis akan pergi jauh”, langsung down. Terus, jadi jealous berat sama anak yang lahir hari minggu *maklum, masih anak-anak*

Sekarang, iseng-iseng coba googling, dan ternyata… ada banyak versi lowh!!

Continue reading »

Previous Entries