Monthly Archives: February 2010

Huru Hara Pagi

Pagi ini…

Terjadi sebuah kebodohan sodara-sodara T____T

Jadi ceritanya,
karena sisa nasi makan malam masih ada, jadi diputuskan untuk disimpan untuk sarapan pagi ini. Lauk? Tenang sajaa, masih ada sisa sarden ;p

07.35
Turun ke bawah, ambil sarden di kulkas. Begitu masuk dapur, ternyata kompor dua-duanya lagi dipake masak sama ibu kos. Yowes, masukin mangkuk isi sarden ke microwave, set timer. Hummmh, berapa ya enaknya?? Set 4 menit saja. Start. Buru-buru naik ke atas, lanjut siap-siap.

07.40
Turun ke bawah, selama turun tangga tercium bau sarden. Tapi aneh, kok wanginya ga biasa. Begitu sampai bawah, bapak dan ibu kos lagi berdiri di depan microwave. Mulai curiga >.< “Kenapa Bu? Gosong ya?”. Dan ternyata benar sodara-sodara! Huks… Ga cuma sardennya telah mengering menghitam, tapi seluruh bagian dalam microwave penuh percikan-percikan sarden. A total mess T_____T.

07.41
Setelah 1 menit terdiam terpaku memandang kekacauan yang ga keruan itu *ga sempet difoto sih*, panik. Terdengar suara ibu kos “Sudah mbak, ambil aja mangkuknya, nanti saya bersihin”. Akhirnya keluarin mangkuk sambil “aw! aw!” karena kepanasan, berharap masih bisa dimakan. Ga bisa, tidak ada harapan. Lalu lalu, ibu kos dengan baik hatinya menawarkan “Ini mbak, sarapan nasinya pake kuah ini aja”. Tadinya sempet ragu, tapi perut berkata lain ;p.

07.43
Buang sarden gosong nista itu. Ambil nasi, dan menikmati sarapan nasi dengan kuah yang dimasak ibu kos, yang ternyata pedes. Tapi gapapa, yang penting perut kenyang dan bisa memulai hari dengan hati senang ^^.

07.45
Berangkat ^^

Tapi tapi…
Ibuuuuuu… saya maluuu. Masa, memanaskan sarden dengan microwave saja saya… gagal?

Family Gathering dan Monyet Jutata

Akhirnyaaa.. bersua kembali dengan blog tercinta, setelah beberapa hari ga bisa ngeblog karena bandwidth limit-nya udah kelewat >_<. Hummmh, jadi pengen upgrade lagi ;p

Anyway, akhir minggu kemarin gw pulang ke Bogor, karena ada acara makan-makan keluarga besar, di rumah Eyang Kakung. Nyaris full team, kurang: Om Mahdi & Luthfi di Aceh, Pupule yang lagi asik fesbukan di Tarakan *hihi*, dan Ditul yang lagi sibuk tryout demi mengejar cita-cita *semangat, sist!! kan kalo situ jadi dokter, sini bisa berobat gratis ^^*. Dalam rangka? banyak..

Syukuran wisuda sepupu *if you read this, Dhika, congratz!! OOT: wisuda UI ada live streaming-nya ya, kereeen…*, anniversary Pakdhe Rhiza & Budhe Erna, ulang tahun Mumule & Lek di bulan Januari, 10 tahun Eyang Putri meninggal, dan 5 tahun sejak tsunami di Aceh :’( *Tante Koekoek, Maurin, & Tazki, may you all rest in peace*.

Great feast!! Sayang ga ada lumpia makassar >.< maklum, udah ngidam dari kapan tau. But it’s okay, toh makanannya udah banyak, sampe rasanya ga bisa bangun dari duduk saking kenyangnya.

Tentang family gathering sudah, lanjut ke ‘monyet jutata’. Jadi, entah kenapa tiba-tiba nostalgila itu dimulai *kayaknya gara-gara gw iseng nggigit tangan mum, hihi*. Dan cerita pun mengalir.

Konon katanya, beberapa minggu *atau bulan?* setelah gw lahir di Bogor, langsung diajak terbang ke Juata, Tarakan. FYI, Tarakan adalah sebuah pulau di Kalimantan Timur. Ya, pedalaman, yang katanya mau ke TK aja harus naik turun gunung, haha. Tapi sekarang udah lumayan modern kok *iya ga, Pul?*, walopun masih ga ada Twenty One :D.

Gw ga inget sama sekali tentang masa kecil gw selama beberapa tahun di sana. Tapi, dari cerita orang-orang dan foto-foto, bisa tergambarlah masa kecil gw. Teman bermain seringnya hanya kucing ^^; Di hampir setiap foto pasti ada kucing yang setia menemani gw bermain.

Lalu, bakat omnivora gw mulai tampak ;p. Buktinya, katanya gw hobi memasukkan segala sesuatu ke dalam mulut. Sebutlah, luwing *tau kan, sejenis kaki seribu ya kalo ga salah?*, abu rokok, dan sebagainya. Owh, lagu favorit gw waktu itu: ‘Isabela adalah…’.

“Isabela adalaaah… kisah cinta dua duniaaa…”

Nah, setiap akhir tahun, kami pulang ke Bogor, sekaligus merayakan ulang tahun gw. Di Bogor, ada sepupu yang seumuran *setahun di bawah gw*, lucu banget. Kulitnya putih, tembem, montok, rambutnya kriwil-kriwil. Mungkin, karna gw jarang ketemu yang kayak gitu di Juata, jadi gemes. Dan terjadilah insiden itu sodara-sodara. Katanya sih, gw gigit tangannya sampe berbekas dan berdarah *ah, gw tau ini yang cerita pasti lebay, ga mungkin anak kecil seimut gw bisa nggigit sampe berdarah ;p*.

Dan karena nama panggilan gw di rumah Tata, mulai sejak saat itu, gw mendapat julukan dari Eyang: Monyet Jutata ^^; sial…