Category Archives: blabla

Movin’ Groovin’

Good day!

Tadinya baru mau menulis postingan baru setelah rumah baru ini didesain ulang, jadi bisa berucap “Welcome to my new home!!”. Sayangnya ga ada waktu, huks, masih ada deadline project dua biji, sementara jari-jari ini sudah gatal pengen cerita *kayaknya mereka lagi bosan coding atau mengetik project report*. Jadinya kurang kelihatan ya ‘rumah baru’-nya… karena sebenarnya yang pindah sih hosting-nya.

Sempat mengira kalau pindah hosting cuma tinggal memindahkan file-file di hosting lama ke hosting baru. Ternyata ga sesederhana itu ^^; Harus install WordPress di database yang baru, import posts, install ulang plugin, daaan sebagainya. Masih banyak yang harus dikerjakan, jadi tampilannya masih belum seperti yang dulu *rencananya sih memang ubah total T__T oh, waktu, i need you*. Blog yang satu lagi masih terbengkalai, nanti dulu deh, satu-satu.

Semua ini berawal dari… ketika saya membuatkan wedding website untuk seorang teman ;). Bisa dilihat di sini ^^, kalau ga bisa dibuka berarti domain-nya sudah expired. Yah, siapa tahu ada yang tertarik, hihi *lahh, ngiklan*.

Karena hanya dipakai sebentar saya carikan hosting gratisan, jadi cukup mengeluarkan biaya untuk beli domain saja. Ketemu deh sama Freehostia ^^. Yang cukup bikin sakit hati, kapasitas dan bandwidth-nya jauh melebihi kapasitas dan bandwidth hosting saya terdahulu, yang berbayar -_-. Waktu dulu itu memang pilih gampang sih, beli domain dan hosting di tempat yang sama.

Nah, kebetulan beberapa minggu yang lalu tiba-tiba dapet email dari hosting terdahulu, bahwa jatuh tempo pembayaran tanggal 20 Mei. Buru-buru deh pindahan. Gratis atau bayar, pilih gratis dong yaa ^^. Karena gratisan, cuma dikasih satu database. Sementara saya ‘mengasuh’ dua blog, jadi saya request tambah database satu lagi dengan biaya $1 per bulan.

Setelah proses pembayaran selesai, tiba-tiba tadi saya ditelepon, private number. Ternyata Freehostia yang menelepon, nanya: “Is this really your real name? Paramita Paramita. Why do you have the same name for first and last name?”. Jiaaahhh… urusan nama itu memang deh, sigh ^^; Sepertinya saya dicurigai karena katanya IP address saya hidden, mungkin karena pakai proxy. Duh, ga ngerti deh urusan begituan. Memang di residence ini untuk bisa akses internet harus via proxy.

Dicukupkan sampai di sini dulu deh. Lanjut mengetik yang lain. Semoga postingan selanjutnya sudah dengan desain yang baru ^^. Ciao!

Want You To Know

Masih ingat iklan ini?

YouTube Preview Image

Harusnya di-posting tanggal 5 kemarin, tapi.. apa daya, lagi berkelana sejenak ke negeri tetangga ;p

Dear you, thanks for everything.

Jigsaw Puzzle dan Akuisisi Pengetahuan

Berasa ngarang judul TA, hahah… Tenang, isinya ga seserius itu kok ;p Ga seserius knowledge acquisition yang satu ini.

picture taken from here

Entah kenapa setelah ujian tadi tiba-tiba terlintas pikiran ini. Bahwa proses pembelajaran itu bisa dianalogikan dengan bermain jigsaw puzzle. Semakin banyak jumlah keping jigsaw puzzle, semakin berat juga materi yang harus dipelajari. Misalnya, jigsaw puzzle 4 keping sebanding dengan mempelajari aritmetika sederhana. Diferensial dan integral? Lebih banyak yang jelas, tapi tergantung kapasitas prosesor alias otak tentunya ;)

Nah, menurut saya, tugas seorang pengajar itu bukan hanya memberikan keping-keping puzzle kepada muridnya, tapi juga membantu sang murid merangkai keping-keping tersebut menjadi satu gambar utuh. Karena itulah inti dari pembelajaran bukan? To see the whole picture. Sebenarnya sang murid juga harus berusaha sih, selama di kelas tidak hanya memunguti keping-keping yang dilontarkan sang pengajar, tapi juga sambil berusaha merangkainya, dan meminta bantuan pengajar jika mengalami kesulitan.

Masalahnya, menurut pengalaman saya belajar di kelas selama ini, mulai sejak SD, SMP, SMA, hingga kuliah, yang terjadi justru sebaliknya. Ya, menurut saya ada yang salah dengan kurikulum pendidikan jaman dulu, ga tahu deh kalau sekarang ;p. Tapi yang jelas, mungkin karena pengaruh metode pengajaran “disuapi” ilmu oleh guru, saya jadi terbiasa hanya memunguti keping-keping yang terlontar, dan tidak berusaha merangkainya (di kelas). Bahkan tak jarang di kelas justru tidur atau memikirkan yang lain. Keping-keping puzzle? Aaah, ada slide-nya ini, gampang ;p

Read more »

Kimi Ni Todoke

Pertama kali nonton anime-nya tahun lalu. Lucu ^^ tapi bikin terharu juga, tokoh utamanya dudul sih. Ceritanya… ringan ringan menghibur, “kisah kasih di sekolah” gitu deeh, hahah..

Lalu, waktu ga ada kerjaan kapan itu, maraton baca manga-nya lagi dari awal, walaupun ceritanya sama saja. Di situs andalan saya sih statusnya masih ongoing. Terus, muncul live-action-nya, hyaah… pemeran ‘sadako’, sang tokoh utama, pas banget ^^. Cukup menghibur, walaupun… lagi-lagi… ceritanya ya sama saja ;p. Biasanya kan susah ya bikin live-action dari manga, apalagi yang gambarnya kocak macam Perfect Girl Evolution *menurut saya live-action-nya payah deh ini*. Nah, ini ga, cukup memuaskan, hoho.

Baru-baru ini nonton anime season 2-nya *baru dikasih tahu sang adik, masih belum tamat ternyataaa… sial*, dan saya suka suka sukaaa sama opening theme song-nya >.< Soufuu by Tomofumi Tanizawa..

YouTube Preview Image

*rileks sebentar sebelum mengerjakan hal-hal yang lebih penting lainnya… fufufu… akh, jiwa otaku saya masih tersisa rupanya ;p*

Hobi Yang Terlupakan

Masih ingat tradisi zaman dahulu kala? Zaman saya SD tepatnya, yaitu… tradisi tukar-menukar diary lucu, untuk diisi dengan biodata ^^. Sekarang sudah ga zaman lah ya, dengan begitu banyaknya social media. Sejak dulu itu saya selalu menulis “membaca” sebagai hobi, dan “paramitha rusadi” sebagai artis favorit :)).

Sayangnya sekarang hobi yang satu itu terlupakan, digantikan oleh “menonton”, “browsing internet, “membaca komik online”, dan “blogging/blogwalking”. Well, sebenarnya sih semua melibatkan aktivitas membaca yaa, menonton kan kadang harus membaca subtitle juga ;p. Tapi “membaca” yang saya maksud sebagai ‘hobi yang terlupakan’ di sini adalah ketika objeknya berwujud buku, fisik, bukan dalam bentuk kode biner. Dan tentu saja fiksi ;p.

Sepertinya sejak saya dulu ngantor itu deh, jadi jarang *buanget* ke toko buku. Dan keinginan beli buku pun menghilang begitu saja. Paling kalau pas pulang ke rumah dan nemu novel dan komik yang dibeli si adek atau bude, baru deh diboyong ke kosan untuk dibaca ketika ada waktu luang, plus niat membaca *yang amat sangat jarang terjadi*.

Selama di sini, saya baru beli satu novel: Ken Follett – The Pillars of The Earth, yang tebalnya naudzubillah. Maksudnya buat nemenin jalan-jalan, sengaja beli yang tebal biar ga habis-habis gitu. Kadang kalau lagi di jalan, kalau sudah bosan tidur atau foto-foto, satu-satunya hiburan ya ini. Ga mungkin bawa laptop kan, atau bacaan tugas kuliah *hoekk*, dan hape offline karena ga dapat sinyal. Kecuali kalau ada wifi tentunya, hohoho *teteuuup*.

Waktu jalan-jalan kemarin, sempat mampir ke toko buku, demi mencari buku percakapan praktis bahasa Italia. Dan tiba-tiba saya melihat novel bahasa Inggris, Artemis Fowl! Huwaaa, langsung deh teringat kalau dulu waktu kuliah sempat koleksi. Baru baca sampai buku keempat, padahal ceritanya sudah sampai buku ketujuh. Jadi pengen beli *di Nancy novel bahasa Inggrisnya cuma seuprit sih -_-*, tapi karena ingat koper bisa-bisa jebol, batal deh. Beli online saja.

Terus jadi ingat, ya ampun, belum sempat baca Brisingr, cerita terakhir triloginya Eragon. Lalu, gimana ya nasib si Torak, dari Chronicles of Ancient Darkness, baru baca tiga dari enam judul. Semangat hobi yang terlupakan itupun jadi membara lagi *tsahhh*. Habis, saya penasaran dengan aksi si jenius Artemis Fowl ^^.

Jadi… mari membaca! Karena buku adalah jendela dunia…

Oh, btw, ada rekomendasi judul novel yang menarik? ;p Sudah lama ga update nih…