Category Archives: deep thought

Jigsaw Puzzle dan Akuisisi Pengetahuan

Berasa ngarang judul TA, hahah… Tenang, isinya ga seserius itu kok ;p Ga seserius knowledge acquisition yang satu ini.

picture taken from here

Entah kenapa setelah ujian tadi tiba-tiba terlintas pikiran ini. Bahwa proses pembelajaran itu bisa dianalogikan dengan bermain jigsaw puzzle. Semakin banyak jumlah keping jigsaw puzzle, semakin berat juga materi yang harus dipelajari. Misalnya, jigsaw puzzle 4 keping sebanding dengan mempelajari aritmetika sederhana. Diferensial dan integral? Lebih banyak yang jelas, tapi tergantung kapasitas prosesor alias otak tentunya ;)

Nah, menurut saya, tugas seorang pengajar itu bukan hanya memberikan keping-keping puzzle kepada muridnya, tapi juga membantu sang murid merangkai keping-keping tersebut menjadi satu gambar utuh. Karena itulah inti dari pembelajaran bukan? To see the whole picture. Sebenarnya sang murid juga harus berusaha sih, selama di kelas tidak hanya memunguti keping-keping yang dilontarkan sang pengajar, tapi juga sambil berusaha merangkainya, dan meminta bantuan pengajar jika mengalami kesulitan.

Masalahnya, menurut pengalaman saya belajar di kelas selama ini, mulai sejak SD, SMP, SMA, hingga kuliah, yang terjadi justru sebaliknya. Ya, menurut saya ada yang salah dengan kurikulum pendidikan jaman dulu, ga tahu deh kalau sekarang ;p. Tapi yang jelas, mungkin karena pengaruh metode pengajaran “disuapi” ilmu oleh guru, saya jadi terbiasa hanya memunguti keping-keping yang terlontar, dan tidak berusaha merangkainya (di kelas). Bahkan tak jarang di kelas justru tidur atau memikirkan yang lain. Keping-keping puzzle? Aaah, ada slide-nya ini, gampang ;p

Read more »

D Day

Today, at 18.05 PM, Insya Allah QR673 with me on it will take off to Doha, and then QR019 to Paris. Preparation? Hummmh, let’s see…

Packing: done. Suitcase 22kg, cabin travel bag 4kg, and notebook backpack 4kg *really hope that they’re not overweight >_<*. I just bring a few that might be necessary *including food supply for couple of days ^^v*, so maybe some more will be sent from home later ;p.

Learn French: not yet. Don’t have time for that T__T *or maybe I’m just too lazy to learn*. Well then, I will use 9 hours of transit in Doha to remember few phrases that can help me when I *reaaally hope not* get lost.

Get anti-flu shot: not yet. One of the requirement to get any is to be healthy. And until two days ago I still caught a flu, damn.

Enough euros: done. Though until today the scholarship fund hasn’t been transferred yet *sigh*, but I manage to collect some euros to get me through the first couple of weeks in Nancy. Hail my parents! :))

Paris~Nancy transport: done. I’ve done my best to prepare this, but getting lost is my specialty, so… ^^; let’s just pray that everything is gonna be okay.

The plan is:

  • I’m supposed to arrive at Terminal 1 Charles De Gaulle Airport, so, I need to take airport shuttle to Terminal 2, where Roissy CDG TGV Station is located.
  • Go to the locket to retrieve my TGV ticket to Lorraine TGV Station.
  • Ride TGV (Train de Grande Vitesse = high-speed train) to Lorraine, but need to transfer (change train) at Marne La Vallee TGV Station (where Disneyland Paris is located) for an hour.
  • Arrive at Lorraine TGV Station, take shuttle bus (navette) to Nancy Station which runs every hour.
  • Arrive at Nancy Station, where someone will pick me up and take me to Residence Provencal, my soon to be home.

Yosh, I’m well prepared!! *crossing finger* ^^

Full charged gadget: done. Notebook, mobile phone, camera, MP3 player: checked.

Documents (Passport, Visa) and Ticket: done. Okay, need to check this thoroughly one more time before leaving home.

Lastly,

To be very far away from all my beloved people here: done. Well, haven’t well prepared yet, but… I’m ready. I’m sure I’m gonna miss them so much, but life must go on, rite? This is a good opportunity to be more independent person, to grab once in a lifetime experience, to taste the bittersweet of living far from family and friends, in a new environment. And to meet new people with different culture, to go to new places in this vast world. Nope, I wouldn’t miss it ^^.

And allow me to start this new journey of life with… Bismillah… Wish me luck :)

Masih Seorang Anak Kecil

Masih seorang anak kecil, yang belum bisa mengambil keputusan. Menentukan apa yang sebenarnya diinginkan, lalu bertindak sesuai dengan keputusan yang sudah diambil. Plin plan. Tak bisa menjatuhkan satu pilihan. Belum.

Masih seorang anak kecil, yang merasa marah, sedih, dan kecewa, ketika sesuatu yang dianggap miliknya, bukan menjadi miliknya lagi. Masih merasa bahwa itu adalah miliknya. Salah. Karena sesungguhnya, semua adalah milik-Nya.

Masih seorang anak kecil, yang berimajinasi secara berlebihan. Memandang segala sesuatu dengan menggunakan kacamata fiksi. Mengaburkan realitas yang ada. Imajinasi? Penting. Berlebihan? Tidak perlu.

Masih seorang anak kecil, yang dengan seenaknya membuka mulut, tanpa memikirkan perasaan orang yang mendengar. Dengan seenaknya melayangkan tangan, tanpa memikirkan sakit orang lain yang merasakan. Dengan seenaknya membanting barang, tanpa memikirkan rusaknya manfaat dari barang tersebut.

Masih seorang anak kecil, yang merasa marah dan kesal pada orang lain, karena tidak bisa mendengar isi hatinya sendiri. Padahal, suara-suara kemarahan dan kekesalan itu justru semakin menutupi suara hati.

Masih seorang anak kecil, yang merasa marah dan kesal pada diri sendiri, karena tidak bisa mengendalikan kemarahan dan kekesalan yang ditujukan pada orang lain.

Masih seorang anak kecil, yang belum bisa berpikir secara dewasa,

namun sedang belajar tertatih-tatih untuk menjadi orang dewasa. Dan tidak akan pernah berhenti atau menyerah.

*******

Bukan, bukan puisi. Kan saya phobia menulis puisi ;) Hanya sedang mencoba salah satu cara untuk mendengar isi hati. Dan mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih baik *dalam rangka mencapai resolusi 2010* ^^

Hufffh, perjalanan masih panjang tampaknya…

This first? Or that?

“You should define your priority”

Someone told me that not so long ago, while I was busy ‘clicking’ and ‘scrolling’ in mangafox.com, though i have much much more important thing to do *which is much much less interesting* ^^;

As a defense, I do have priority for things! Let’s see, in weekday it would be:

  1. work/job –> of course, there’s responsibility involved
  2. eat
  3. have a little fun –> simply listen to music is already considered as having fun
  4. household chores –> like do laundry, cleaning things, but only if I need to
  5. rest

And in weekend it would be:

  1. rest
  2. household chores –> do weekend laundry, cleaning things that haven’t been cleaned for a week :p
  3. have fun
  4. eat
  5. work/job

Hummh, turns out being the total opposite of weekday list ^^; But, sometimes when it’s urgently needed, the work/job can be at the top of the weekend list. See? I do have defined my priority :p

It’s just that, sometimes, my priority list get messed up by two things which I can’t control. That is, the urge to finish what’s been done halfway, and the urge to write down what’s been built up in my mind.

The first one,  obviously, just like what I was said earlier. I can’t help but reading a book or comic/manga until the very last page, even though it means I cannot get to sleep. Or watching a TV series or Japan/Korea drama until I know what happen in the last episode. Or finish some handicraft project until I can look at the result proudly. But those only happen when they’re only about halfway to be finished *only the interesting ones can last halfway*. I still can quit myself when it’s still at the beginning.

And then, the second one. That’s exactly what I’m doing right now ^^; I’m supposed to write some research proposal, yet my fingers are typing these words that resound in my head. I need to get them out right away, coz I’m pretty sure tomorrow morning I don’t remember any of them.

Okay, maybe I should change this habit, and re-define my priority ^^; Ah, well, my priority for now is get some rest. Re-defining my priority can wait ’til tomorrow ;)

Smell ya later… ZzzzzZzzzZZzzzzZ…

Morning Wisdom

rocky-path

Mungkin karena semalam tidur dengan amat sangat nyenyaknya, ketika bangun tiba-tiba mendapat semacam pencerahan.

Hummmh, sebelumnya, sedikit flashback dulu deh ya ;p

Sedari dulu, semua cita-cita yang gw buat adalah dalam jangka pendek. Ga pernah terpikir, akan menjadi apakah gw dalam berpuluh-puluh tahun mendatang. Kalau cita-cita jaman TK-SD sih “mau jadi arsitek!!”, dan “mau mbangun rumah buat Papa Mama” ^^. Walaupun pilihan kedua SPMB gw memang Teknik Arsitektur, entah kenapa nyasarnya malah ke Teknik Informatika :))

Setelah masuk kuliah, tujuan hidup masih tetap ga jelas. Untungnya, kuliahnya ternyata cocok dengan minat dan bakat, ga salah jurusan lah pokoknya. Setelah 2 tahun kuliah, mulai memikirkan apa yang akan dilakukan setelah lulus nanti. Akan lanjut S2 kah? Atau langsung terjun ke dunia kerja?

Karena ga ketemu jawabannya, akhirnya membuat cita-cita jangka pendek “mau cari beasiswa ah, biar bisa bayar kuliah sendiri”. Dan setelah mendapat beasiswa, ternyata ada kontrak ikatan kerja dengan perusahaan pemberi beasiswa, selama 2,5 tahun. Hooo, berarti jalan gw setelah lulus adalah langsung bekerja, begitu pikir gw saat itu.

Setelah bekerja selama 1 tahun, masih belum juga terbayang akan jadi apakah gw di masa mendatang. Akhirnya membuat cita-cita “mau jalan-jalan ke Eropa, sambil S2 deh”. Dan ternyata, insya Allah impian itu akan segera terwujud ^^. Dengan beasiswa tentunya, ga sanggup kalau bayar sendiri. Sayangnya, ikatan kerja gw belum selesai :(. Jadi dalam 4 bulan mendatang, gw harus mengumpulkan pundi-pundi untuk membayar denda, sekaligus mengumpulkan modal untuk masa awal di sana, sebelum beasiswanya cair.

Dan dengan terbukanya jalan gw untuk S2 inilah, tujuan hidup gw mulai terlihat jelas :)

Sebelumnya, gw sempat berpikir bahwa gw akan menjadi wanita karir, yang mengejar puncak karir, di perusahaan top internasional. Menikah dan mempunyai anak akan menjadi prioritas terendah. Dengan gaji yang mumpuni, dan kehidupan bebas tak terikat, gw bisa travelling kemana-mana dan membeli barang apapun semau gw. Menjadi sukses!

Tapi…

Setelah dipikir-pikir, itu bukan lagi definisi ‘sukses’ dalam kamus gw. Mungkin dulu iya, tapi sekarang definisi itu sudah berubah. Gw ingin menjadi wanita yang seperti Mama. Ibu rumah tangga yang 100% mendukung suami dan anak-anaknya. Mungkin, kalau dulu gw ditinggal bekerja dan diasuh oleh babysitter, tidak akan ada Paramita yang sekarang ini ;)

Tapi, tentu saja definisi ‘ibu rumah tangga’ dalam kamus gw akan ada sedikit modifikasi ;p. Soalnya, gw tipe orang yang bingung setengah mati kalau ga ada kerjaan. Menurut gw, karir yang mendukung untuk tetap bisa menjadi full-time-mom adalah… berwirausaha ^^. Mungkin, seperti impian gw sebelumnya, punya kos-kosan.

Dibutuhkan modal yang cukup besar untuk impian yang ini, jadi menurut gw penghasilan tetap juga harus tetap ada. Dan gw memutuskan profesi dosen sebagai sumber penghasilan tetap ^^. Ya, dosen. Gw yang dulu selalu berkata “ga mau ah jadi dosen! mau jadi wanita karir aja”, sekarang malah tertarik dengan profesi yang satu ini. Betapa waktu bisa mengubah cara pikir seseorang ^^; Lagipula, eyang kakung yang seorang dosen memang ingin ada cucunya yang mengikuti jejaknya.

Setiap orang punya jalan hidup masing-masing. Bagi sebagian orang, jalan di depan mungkin sudah jelas akan menuju ke mana, tapi bagi sebagian orang yang lain jalan itu masih tertutup kabut tebal. Saat ini, kabut yang menutupi jalan gw sudah mulai tersibak sedikit. Dan langkah gw sudah mulai pasti akan menuju ke satu arah. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa di suatu titik langkah gw tiba-tiba membelok, menuju arah yang lain ;)

Dan jalan itu, tidak terbentuk dengan sendirinya. Mungkin jalannya memang sudah ada, tapi kalau tidak ada usaha dari diri kita untuk membuka gerbangnya, ya jalan itu tidak akan pernah bisa kita lewati. Menurut gw, langkah awal dalam menemukan jalan yang ingin dilewati adalah dengan bermimpi *maksudnya bukan nunggu wangsit loh ya, tapi memiliki impian*. Langkah kedua, memastikan bahwa gerbang menuju jalan tersebut bisa dibuka dan jalan itu bisa dilewati. Langkah ketiga, mengerahkan segala daya upaya untuk membuka gerbang tersebut.

Terkadang, sekeras apapun usaha kita untuk membuka, gerbang tersebut tetap bergeming. Jika demikian, tak ada salahnya untuk meninggalkan gerbang tersebut dan mencari jalan lain, karena jalan itu mungkin memang bukan yang terbaik untuk kita.

Teruntuk adikku tersayang, yang mungkin merasa bahwa jalannya masih terhalang kabut yang sangat tebal, you’ll find your way, trust me ;) Dan jangan lupa untuk mengerahkan sekuat tenaga untuk membuka gerbang menuju jalan itu kalau sudah ketemu ya…


“Without leaps of imagination, or dreaming, we lose the excitement of possibilities. Dreaming, after all, is a form of planning.”

~ Gloria Steinem