Category Archives: nostalgia

Now & Then: How Much Have We Grown?

The idea came from my sister, while we both have a lot of free time… at home. I mean, when will we have a chance to do silly things like this again? ;p

Some points to conclude…

First, we do still have identical shirts! The difference is, they used to be in different sizes. Now they’re identical to the size, but we have a reason for buying two shirts ;). There is no way we can use one shirt alternately, at least for the next two semesters.

Second, I can no longer hug my sister from behind without standing on my tippy toes. And there is no way to stand upright if I want the camera to also capture my face, not just my hands hugging her *that would be creepy don’t you think?*.

Third, we don’t have identical dresses anymore :(. Well actually, we barely have dresses now *put on shirt/blouse + jeans, then we’re good to go*. Back then, most of our collections of dresses came from our mother’s hands. Now, the sewing machine kinda lose its purpose ;p. The only ‘dresses’ that almost have the same color and design, and of course fit us are… daster batik*!

And lastly… we can still have a good laugh and smile at the end of the day, no matter how hard it is :)

*) daster: some kind of pajamas that is very comfortable for sleeping in tropical countries, with hot and humid weather; batik: see here

Nostalgilalala

Saya sedang ingin bernostalgia…

Gara-garanya, iseng menjelajah tumblr seseorang, dan menemukan banyak hal… yang sangat menarik ;p. Bikin ketawa, kagum, bangga, sedih, dan kangen rumah beserta ‘isinya’, walaupun sekarang kayaknya sudah jauh berbeda: ada yang sudah sibuk kuliah, ada yang jadi sering bolak-balik kalimantan, ada yang pensiun, dan terakhir… ada yang… huks. Oh, rumahku… dua tahun lagi bakal jadi apa kalau baru ditinggal 3 bulan sudah seperti ini??

Tapi yang membuat saya tiba-tiba ingin menulis adalah, foto ini…

Rumah kos yang saya tinggali selama 3 tahun di Bandung. Rumah kedua… tempat tinggal ibu kos paling baik sedunia ^^. Kalau sudah penat pulang kuliah, sampai di rumah ini serasa sampai di oasis. Nyaman, tenteram, sampai-sampai kadang saya rela bolos kuliah demi bisa menikmati kamar (baca: tempat tidur) lebih lama :)).

Read more »

Tarakan, Dulu dan Sekarang (part 2)

Tarakan sekarang, sudah lebih maju! Sudah ada mall, Grand Tarakan Mall, walaupun tak sebanding dengan mall-mall di Jakarta. Sayangnya belum ada Studio 21 apalagi XXI, makanya Pupule tiap pulang ke Bogor pasti mborong DVD. Ada universitas juga, gedungnya megah besar, Universitas Borneo Tarakan namanya. Tapi kayaknya kuliah di situ minimal harus punya motor atau tebengan motor ^^; Jauuuh banget dan ga ada (atau jarang?) angkot yang lewat.

Di jalan, banyak terlihat tulisan ‘Milo’. Restoran Milo, Toko Milo, Milo Bakery, Warung Kopi NesMilo. Menurut Pupule, itu semua pemiliknya bersaudara. Kenapa Milo? Karena konon, dulu tokonya menjual susu Milo impor dari Malaysia, jadi terkenal dengan nama toko Milo. Dan akhirnya buka cabang macam-macam juga menggunakan nama Milo. Karena dekat dengan Malaysia, snack di Tarakan kebanyakan memang Malaysia punya.

Di tengah kota ada hutan kota, mirip Kebun Raya Bogor, tapi yang ini isinya hanya pohon mangrove alias bakau. Judulnya Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan. Sayangnya, menurut pemandu di situ, bekantan termasuk hewan pemalu. Jadi susaaah banget kalau mau melihat mereka dari dekat. Sempet lihat sih dari jauh, lagi pada ngumpul arisan, eh… makan pisang. Terpaksa puas hanya dengan patungnya ^^;

Empat hari di sana, saya mabok seafood! Kakap asam manis, sup perut ikan kepiting *perut ikan itu maksudnya kulit ikan bagian perut yang dikeringkan, terus dimasukkan ke dalam sup jadi kenyal-kenyal*, ikan kerapu bakar, bubur ikan, kepiting lada hitam, kepiting asam manis, udang galah Tarakan yang besar-besar itu, cikong *kaki kepiting tanpa kulit yang dibalut tepung jadi kayak tempura*. Nyammm.

Maaf, tak ada foto-foto makanan. Karena begitu makanan datang langsung diserbu, dan begitu ingat untuk mengabadikan, sudah ludes tak bersisa.

Tak ada menu ayam selama kami di sana, paling burung dara goreng. Dan saya dikenalkan pada sayur yang langsung jadi sayur favorit. Rasanya manis, segar. Sayur pucuk namanya. Entah pucuk tanaman apa, Pupule ditanya juga tak tahu. Di hari terakhir kami sarapan Coto Makassar ^^; Di sana memang banyak pendatang orang Bugis, bahkan ada daerah yang jadi perkampungan Toraja. Sedangkan suku asli di Tarakan suku Tidung namanya.

Rumah dinas Pupule yang sekarang ada di tengah kota Tarakan, bukan di Juata Laut. Tapi tetap saja, banyak keluwing asik berjalan-jalan di dalam rumah :)). Satu kompleks dengan kantornya, hanya berjarak beberapa meter. Enak deh, mau ngantor tinggal loncat, jam istirahat bisa pulang dulu ke rumah *ngiri ;p*. Ada di atas bukit, jadi dari belakang rumah kelihatan pemandangan kota, plus laut di kejauhan.

Langit Tarakan jauuuuuh lebih luas daripada langit Jakarta *mungkin karena ga ada gedung-gedung tinggi*, dan lebih biru jernih, dengan gumpalan awan yang terlihat jelas *tak seperti langit Jakarta yang keabuan tertutup asap*. Bahkan, di suatu pagi, waktu kami jalan-jalan keliling kompleks, ada pelangi!

Apalagi langit pagi di Pantai Amal. Wuihhh. Pasir pantainya memang tidak seputih pantai-pantai lain. Dan karena laut lagi surut, pasirnya kotor. Tapi langitnya… indescribable.

Saya jatuh cinta pada langit Tarakan.

Dibandingkan langit Bogor? Hummmh, di Bogor banyak pohon, jadi hampir semua langit tertutup pohon. Dan di Bogor banyak angkot, jadi udaranya juga sudah tercemar asap. Dan di Bogor sering hujan *namanya juga kota hujan*, jadi langitnya sering berwarna mendung.

Di malam terakhir kami bakar-bakar ikan di halaman belakang rumah. Langit penuh bintang! Sayang kamera tak sanggup mengabadikan.

Empat hari di Tarakan, mengenang kisah 20 tahun yang lalu dan menulis kisah untuk dikenang 20 tahun mendatang. Tarakan, dulu dan sekarang…

Tarakan, Dulu dan Sekarang (part 1)

Tanggal 8-11 Juli kemarin saya berkesempatan mengunjungi Pulau Tarakan, sebelum saya dan adik sibuk dengan urusan kuliah. Mengunjungi Pupule yang sudah 6 tahun terakhir ini dinas di sana lagi ^^; Dulu, kami pindah dari Tarakan ke Surabaya di pertengahan tahun 1990. Jadi saya sudah tidak melihat Tarakan selama… tepat 20 tahun! Mungkin nanti akan nostalgia ke sana lagi 20 tahun mendatang, bawa anak :)) *amiiin*

Empat hari itu, rasanya penuh dengan kisah-kisah jadul. Walaupun waktu itu saya masih kecil dan rasanya ga banyak ingat apa-apa. Tapi dari cerita orang-orang selama perjalanan rasanya saya bisa membayangkan masa kecil saya.

“Nih, Ta… Dulu, jalan daratnya keputus cuma sampai Puskesmas sini. Jadi harus naik longboat.”

“Serem naik turun longboat-nya. Tangganya yang tegak lurus itu, yang bolong-bolong. Padahal mamamu sambil gendong bayi.”

Menurut cerita Pupule dan Mumule, 4 bulan setelah saya lahir, langsung diboyong ke Pulau Tarakan, Kalimantan Timur. Tinggal di dekat kantor Pupule, sebelah utara pulau, di pinggir laut, nama daerahnya Juata Laut. Untuk sampai ke kelurahan tersebut, tak ada akses jalan darat dari kota Tarakan *tempat bandara Juwata berada*, jadi… harus naik longboat selama 1 jam *muterin pulau*.

“Waktu itu, ada selametan di rumah tetangga. Selesai acara, mama jalan pulang ke rumah sambil gendong kamu. Rumah masih jauuuh di atas sana. Tiba-tiba di tengah jalan, kamu lihat ada kucing.

Terus kamu ngerengek minta mpus-nya ikut. Akhirnya mama ambil, terus mama taruh di dalam gendongan sama kamu, ikut digendong pulang. Itulah si Mpus yang selalu nemenin dan njagain kamu main.”

Gyahahaha… Mungkin gara-gara itu saya jadi ga bisa lepas sama bulu kucing sampai sekarang, bawaannya pengen unyel-unyel terus ;p. Anyway, hampir di setiap foto di Juata memang selalu ada itu si Mpus.

Lanjut, salah satu kisah paling favorit tentang saya di Juata adalah… makan keluwing!

“Masih pagi, papa mama belum bangun, kamu udah bangun sendiri dan langsung merangkak, eh.. merayap keliling rumah. Tiba-tiba kedengeran suara kamu nangis teriak.

Papa mama langsung bangun, lari keluar kamar. Kamu lagi duduk nangis, mulut mangap, sambil lidahnya keluar gitu, di atas lidah ada keluwing lagi mlungker.”

“Kayaknya kepalanya udah hancur deh, jadi mungkin sempet kamu gigit, terus kepedesan.”

“Mama aja nyingkirinnya dari lidah kamu sambil jijik.. hiii…”

“Puntung rokok juga pernah, dimakan. Pas digigit kepedesan, nangis.”

Ehem, sebagai pembelaan… keluwing lagi mlungker itu benar-benar mirip coklat tau! -_- Nih ya, saya lampirkan gambar sebagai bukti. Kalo puntung rokok, ehem, gatau deh, mungkin rasa ingin tahu saya lagi berlebih ^^;

Kisah-kisah nostalgia itulah yang menemani saya selama berjalan-jalan di Tarakan.

(bersambung…)

Can’t Let The Music Stop

Can’t let ‘this particular one song’ stop in exact…

YouTube Preview Image

Bring me back to two moments of old memories…

“Bergelung di balik selimut, di tempat tidur Ibu kos. Sambil memeluk toples berisi biskuit marie. Menonton American Idol season 7. Mengomentari betapa lucu dan menggemaskannya David Archuleta. Dan betapa kami nge-fans berat sama suaranya.”

I miss her. When can I get to visit her in Bandung? I really want to meet her, before… @_@

“Pesta kelulusan SMP. Satu band tampil di panggung. Membawakan lagu Pas Band feat. Tere – Kesepian Kita dan Vitamin C – Graduation. There he was, playing keyboard. Mengira bahwa dia akan masuk SMA yang berbeda.”

Dan ternyata, SMA yang sama tuh ^^; Dasar gosip, rugi deh udah mellow mellow. Duh, semoga ga ada temen SMP yang mampir ke blog ini, hahah. Akh, gara-gara buka diari lama untuk sumber posting ini sih…

Can’t let the music stop,
Can’t let this feeling end,
Cause if I do it’ll all be over,
I’ll never see you again…