Masih seorang anak kecil, yang belum bisa mengambil keputusan. Menentukan apa yang sebenarnya diinginkan, lalu bertindak sesuai dengan keputusan yang sudah diambil. Plin plan. Tak bisa menjatuhkan satu pilihan. Belum.
Masih seorang anak kecil, yang merasa marah, sedih, dan kecewa, ketika sesuatu yang dianggap miliknya, bukan menjadi miliknya lagi. Masih merasa bahwa itu adalah miliknya. Salah. Karena sesungguhnya, semua adalah milik-Nya.
Masih seorang anak kecil, yang berimajinasi secara berlebihan. Memandang segala sesuatu dengan menggunakan kacamata fiksi. Mengaburkan realitas yang ada. Imajinasi? Penting. Berlebihan? Tidak perlu.
Masih seorang anak kecil, yang dengan seenaknya membuka mulut, tanpa memikirkan perasaan orang yang mendengar. Dengan seenaknya melayangkan tangan, tanpa memikirkan sakit orang lain yang merasakan. Dengan seenaknya membanting barang, tanpa memikirkan rusaknya manfaat dari barang tersebut.
Masih seorang anak kecil, yang merasa marah dan kesal pada orang lain, karena tidak bisa mendengar isi hatinya sendiri. Padahal, suara-suara kemarahan dan kekesalan itu justru semakin menutupi suara hati.
Masih seorang anak kecil, yang merasa marah dan kesal pada diri sendiri, karena tidak bisa mengendalikan kemarahan dan kekesalan yang ditujukan pada orang lain.
Masih seorang anak kecil, yang belum bisa berpikir secara dewasa,
namun sedang belajar tertatih-tatih untuk menjadi orang dewasa. Dan tidak akan pernah berhenti atau menyerah.
*******
Bukan, bukan puisi. Kan saya phobia menulis puisi ;) Hanya sedang mencoba salah satu cara untuk mendengar isi hati. Dan mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih baik *dalam rangka mencapai resolusi 2010* ^^
Hufffh, perjalanan masih panjang tampaknya…









